skip to main |
skip to sidebar
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang cara menghilangkan ketombe versi saya. Sebenarnya ketombe tidak bisa dihilangkan sama sekali, menurut saya. Yang bisa adalah diminimalisir sehingga tidak sampai terlihat di pakaian warna gelap bila kita menggaruk kepala misalnya. Bagaimanapun ketombe akan tetap ada karena itu adalah keluaran dari kulit kepala, flora fauna yang hidup di kulit kepala dan rambut, dan sebagainya. Sekali lagi, itu menurut saya yang bukan dokter atau punya pengetahuan kedokteran atau biologi spesifik.Jadi, begini langkah-langkahnya:- Jangan stres. Stres bisa menyebabkan ketombe dan banyak gangguan lainnya.
- Pilih satu saja sampo anti-ketombe. Jangan ganti-ganti sampo. Saya memilih yang wanginya pas.
- Keramas setiap kali mandi. Ambil sampo secukupnya, jangan terlalu banyak. Gosok di telapak tangan lalu keramas sebentar saja,
kurang dari satu menit cukup 10 detik. Bilas dengan air sampai tidak ada sisa sampo.
Catatan: rambut saya pendek sekali, jadi saya tidak bisa memastikan langkah-langkah di atas bisa bekerja untuk rambut panjang. Biasa setelah saya cukur, panjang rambut saya kira-kira 1,5 cm saja.Selamat mencoba. Kalau ada komentar, silakan :-)
Beberapa waktu lalu saya naik pesawat Garuda ke Jakarta. Sudah agak lama saya tidak naik Garuda, digantikan oleh Air Asia yang harga tiketnya jauh lebih rendah. Memang pepatah "ada harga ada rupa" itu benar dan untuk urusan layanan di dalam pesawat terbang ini khususnya sangat berlaku. Garuda Indonesia sebagai maskapai yang dianggap "premium" di Indonesia sekarang ini perlu membedakan diri dari maskapai lainnya, karena harga tiketnya yang memang termasuk "premium" juga.
Sebagai salah satu perbedaan saja, di pesawat Air Asia tidak ada pembedaan kelas, sedangkan di Garuda ada kelas bisnis dan kelas ekonomi.
Entah karena saya sudah lama tidak naik Garuda atau karena perbandingan terdekat adalah dengan pengalaman naik Air Asia, saya merasa pelayanan Garuda meningkat dan bisa saya nikmati. Jangan salah, saya tidak berkata bahwa pelayanan Air Asia buruk. Saya sangat mengerti bahwa apa yang dibayarkan untuk tiket Air Asia sepadan dengan pelayanan yang diberikan. Kalau untuk perjalanan yang tidak perlu dinikmati, Air Asia adalah pilihan terbaik karena efisiensinya dan harganya.
Akhir kata, saya ingin berkomentar bahwa sebagai manusia yang katanya makhluk sosial, tidak ada salahnya memberikan nilai lebih (value added) dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Kalau itu bisa membahagiakan orang lain, kenapa tidak. Asal tentu saja tidak kebablasan (kelewatan) yang akhirnya merugikan diri sendiri atau bahkan orang lain. Bersikaplah positif, seperti yang adik saya tuliskan dalam statusnya hari ini: think beautifully.
Tidak berapa lama sejak tulisan terakhir saya tanggal 9 Agustus 2008, saya kehilangan kura-kura saya (Heine) ketika dia dijemur di pagi hari. Ternyata Heine sudah bisa melarikan diri dari wadah tempat dia dijemur karena kaki depannya sudah mencapai mulut wadah bila dia berdiri dengan kaki belakangnya. Sudah dicari berhari-hari, namun tetap saja tidak ketemu. Untuk langsung membeli penggantinya, saya jadi ragu-ragu karena masih merasa sedih dan kehilangan.
Saya merasa kecewa juga karena saya sudah merencanakan mengganti akuarium dengan yang lebih besar. Akuarium yang lebih besar itu memang bekas, tapi kondisinya masih cukup bagus.
Akhirnya pada tanggal 20 November 2008, saya mempunyai keinginan yang cukup kuat lagi untuk membeli kura-kura baru. Kura-kura baru saya beli di Pasar Ngasem seharga Rp 7500. Ukurannya memang kecil, hanya sekitar 2.5cm, lebih kecil dari Heine dulu. Dia diberi nama Ramen. Sebelum saya membeli Ramen, sudah beberapa hari saya siapkan akuarium barunya. Maksudnya agar air dan filter terkondisi dengan baik karena filter yang digunakan adalah baru dengan kemampuan pompa yang lebih besar.
Sayangnya, ternyata Ramen bermasalah. Ciri-ciri yang saya amati adalah mata bengkak, tidak aktif, lebih banyak tidur di bawah lampu pemanasnya, mengapung kalau berenang (kesulitan menenggelamkan diri), dan tidak mau makan. Semua itu adalah ciri-ciri infeksi pernafasan.

Awalnya saya berharap Ramen tidak menderita infeksi pernafasan karena cukup sulit disembuhkan. Pikir saya, Ramen tidak mau makan karena tidak bisa melihat. Karena itu, matanya saya oleskan minyak ikan kod yang saya beli dalam bentuk kapsul dari apotek. Minyak tersebut dioleskan dengan menggunakan cotton bud. Setelah beberapa hari, bengkaknya tidak mereda. Di bagian dalam selaput sebelah bawah terdapat sesuatu yang berwarna putih. Setelah mencari informasi di internet, saya berkesimpulan untuk mencoba mengeluarkan sesuatu yang berwarna putih itu. Pengeluarannya dilakukan dengan cotton bud. Saya memberanikan diri melakukannya karena saya pikir kura-kura ini murah dan lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali.
Ramen masih belum mau makan sama sekali setelah itu. Keadaannya semakin lemah dan lebih banyak lagi berjemur. Setelah berdiskusi sedikit di forum, akhirnya mau tidak mau saya simpulkan bahwa Ramen terkena infeksi pernafasan. Tidak ada obat yang bisa dibeli untuk menyembuhkan penyakit ini selain dari yang bisa diberikan oleh dokter hewan. Saya tidak mempunyai referensi dokter hewan yang mengerti reptil, jadi saya mencatat semua dokter hewan yang tercatat di Yellowpages Yogyakarta. Saya mencoba menelepon satu per satu urut abjad dari daftar yang saya tulis. Tidak tersambung semua sampai saya menelepon drh. Surono. Setelah pembicaraan singkat, beliau tidak berpengalaman dengan reptil, tapi berkesimpulan pengobatannya bisa dikira-kira mengikuti pengalamannya dengan ayam. Unggas ada setingkat di atas reptil, jadi cara pengobatannya mirip, begitu menurut beliau.
Singkat cerita, Ramen diberi Enrofloxacin, nama generik untuk Baytril yang sering direkomendasi di forum-forum Amerika Serikat, dengan dosis perkiraan yang dihitung berdasarkan berat badan mencontoh dari dosis untuk ayam. Obatnya berupa cairan, jadi perlu diteteskan ke dalam mulut Ramen, sehari tiga kali. Membuka mulut kura-kura kecil bukan pekerjaan mudah, perlu sedikit pemaksaan dengan tusuk gigi dan ditekan dengan jari. Kura-kura seharga Rp 7500 diobati seharga Rp 20 000. Tapi setelah melihat Ramen berangsur pulih, kepuasannya tinggi sekali.

Akhirnya Ramen mau makan. Makanan pertama yang dikonsumsinya setelah dia tinggal di rumah saya adalah cacing, yang bisa dibeli di toko-toko ikan, yang juga merupakan makanannya sebelum saya beli. Selama empat minggu lamanya Ramen tidak makan apa-apa. Saya cukup takjub kura-kura sekecil itu bisa tahan tidak makan selama itu, dalam keadaan sakit pula. Energi memang dibutuhkan untuk penyembuhan. Saya tidak suka Ramen makan cacing, karena tidak sehat dan tidak bergizi seimbang. Tapi Ramen perlu makan sesuatu agar kesehatannya bisa segera pulih.
Hanya sekitar tiga kali saja Ramen makan cacing. Setelah itu, saya akhirnya mencoba mencelupkan pelletnya ke dalam air rendaman ikan tuna kalengan supaya pellet tersebut lebih beraroma seperti makanan bagi Ramen. Usaha ini cukup berhasil. Sekarang Ramen sudah kira-kira tiga bulan saya pelihara. Dia bertambah besar dan menjadi lincah. Sungguh jauh berbeda dibanding dengan keadaannya waktu baru sampai di rumah saya.
Karena iseng, saya membeli 8 ekor ikan guppy dan udang lobster. Udang lobster langsung hilang karena memanjat pipa filter di malam hari dan berhasil melarikan diri entah ke mana. Ramen memakan tiga ekor guppy, yang membuat saya cukup terkesan karena guppy bisa berenang dengan cepat. Sampai sekarang tersisa lima ekor guppy ditambah empat ekor ikan mas. Hampir semua ikan itu ekornya pernah digigit Ramen.

Kenapa saya memelihara ikan di akuarium Ramen? Saya juga pernah memelihara Anacharis (tanaman air) di akuarium tersebut. Pikir saya, ekosistem akan menjadi lebih sehat bila kotoran hewan bisa menjadi pupuk bagi tanaman dan tanaman memberi oksigen lebih untuk hewan. Ternyata Anacharis tumbuh cukup cepat dan Ramen atau ikan suka menggugurkan daun-daunnya. Hasilnya filter cepat kotor dan juga air cepat kotor. Pada akhirnya saya membuang semua Anacharis dan air bisa menjadi lebih bersih dan enak dipandang.

Jadi Anda akhirnya memilih kura-kura yang menurut hati Anda paling cocok dengan Anda. Tentunya dia perlu diberi makanan agar bisa menemani Anda sampai beberapa puluh tahun ke depan. Kura-kura binatang yang cukup mudah untuk dipelihara dan panjang umur, jadi Anda harus siap memeliharanya untuk waktu yang lama.Bahasan kali ini sepengetahuan saya adalah untuk kura-kura hijau dengan tanda merah di samping kepalanya (red ear slider). Mungkin semua jenis kura-kura makanannya mirip, dengan pengecualian kura-kura darat. Jadi pastikan dulu dengan membaca buku atau mencari di internet.Kura-kura adalah omnivora (pemakan segala) yang cenderung herbivora (pemakan tumbuhan). Selama tahun pertama, lebih cocok diberi makan pellet untuk reptil yang biasa bisa dibeli di toko ikan hias. Harga tergantung budget Anda. Bila kura-kura yang dibeli berukuran kecil, kira-kira 3 cm, boleh dihitung sebagai tahun 0 (baru lahir).Kura-kura kadang bersifat rakus, dia akan makan meskipun tidak lapar. Jadi, kita sebagai pemilik yang harus menakar makanannya. Kelebihan makan akan mengakibatkan penyakit seperti gangguan pencernaan, pertumbuhan cangkang yang terlalu cepat, kegemukan, dan sebagainya. Takaran yang tepat untuk pellet adalah volume yang kira-kira sebesar kepalanya (tidak termasuk leher) per hari.Awas, kura-kura sehat akan berenang ke arah Anda dengan bersemangat seperti hendak meminta makan. Jangan mudah tergoda untuk memberi makan bila jatah hariannya sudah terpenuhi. Jangan terpengaruh rayuan kura-kura! :-DKelebihan makan akan mengakibatkan penyakit seperti yang ditulis di atas. Sedangkan kekurangan makan akan memperlambat pertumbuhannya. Kalau tidak salah, idealnya pada ulang tahun pertama panjang cangkang lurus kira-kira 10 cm.Setelah tahun pertama, makanan utamanya perlu diganti menjadi sayuran. Yang paling cocok katanya adalah lettuce (terjemahannya daun selada bukan ya?) Tapi ada baiknya juga diberi pellet sekitar seminggu sekali untuk keseimbangan gizinya. Katanya sayuran perlu diperkenalkan sedini mungkin. Tapi bila sayuran tidak mau dimakan, akibatnya akuarium cepat menjadi kotor. Untuk Heine (kura-kura saya), saya pikir akan saya beri pellet saja setiap hari selama tahun pertamanya. Setelah ulang tahun pertama baru saya beri sayuran, semoga dia suka.Buah-buahan boleh diberikan kalau kura-kura Anda suka, tetapi jarang-jarang sekali, misalnya sekali sebulan. Ikan hidup (feeder) bisa juga diberikan, tapi juga jarang-jarang sekali. Kandungan lemak yang tinggi pada feeder kurang baik untuk kesehatannya.Bagaimana bila Anda tidak sempat memberi makan? Kura-kura masih bisa bertahan beberapa hari tanpa makan, jadi 1-2 hari seharusnya tidak mengapa.Untuk informasi lebih lengkap, silakan baca sendiri di sini. Penerapan saya pada Heine saya ambil dari website tersebut.
Jadi ceritanya sudah kira-kira dua bulan saya memelihara kura-kura hijau yang di kedua sisi kepalanya ada tanda merah (bahasa Inggrisnya red ear slider). Saya senang karena dari dulu saya suka dengan kura-kura. Tentunya sebagai peliharaan, bukan untuk dimakan. Saya tidak akan pernah secara sadar makan kura-kura/penyu/bulus dan sejenisnya.
Sebelumnya, saya menyatakan bahwa segala sesuatu yang saya ketahui tentang memelihara kura-kura belakangan ini saya dapatkan dari sini. Ternyata pemahaman saya dari kecil itu salah. Kura-kura memang bisa hidup, tapi pertumbuhan dan kualitasnya jadi tidak optimal. Tulisan-tulisan saya tentang kura-kura adalah tentang bagaimana saya memelihara si kura-kura, yang saya beri nama Heine, selama ini. Jadi tentunya bukan yang paling ideal menurut ilmu perkura-kuraan.
Bahasan kali ini adalah tentang tempat tinggal. Sebelum mulai memelihara, yang pertama harus disiapkan adalah tempat tinggalnya.
Pada website di atas, tempat tinggal yang dianjurkan adalah yang paling ideal. Untuk ukuran Indonesia, sepertinya terlalu mahal untuk dicapai. Idealnya, per centimeter panjang cangkang kura-kura (panjang ini adalah panjang lurus dilihat dari atas, bukan panjang melengkung) membutuhkan 15 liter air. Cara mengukur panjang cangkang adalah dengan penggaris, jadi tidak bisa melengkung, lalu diukur panjang cangkang dilihat dari atas, tidak dengan menempelkan penggaris ke cangkang, jadi dengan mata saja. Dengan demikian, didapat panjang cangkang lurus.
Karena kebutuhan air yang banyak itu, idealnya kura-kura dipelihara dalam kolam atau akuarium. Tapi biaya yang dibutuhkan akan sangat mahal. Jadi untuk pemula seperti saya, saya hanya menggunakan akuarium kecil ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm. Waktu beli dihargai Rp 40.000,- Masih cukup untuk Heine yang panjang cangkangnya baru kira-kira 4.5 cm. Air perlu banyak karena habitat asli kura-kura adalah di kolam, jadi mereka bisa berenang sepuasnya tanpa takut tenggelam karena terbalik dan tidak bisa membalikkan diri lagi.
Karena air yang menggenang lama-lama bisa menjadi kotor, maka diperlukan filter akuarium. Habitat asli mempunyai air yang mengalir, jadi selalu bersih atau keseimbangannya terjaga. Untuk filter akuarium saya, saya gunakan yang kecil saja. Waktu saya beli seharga Rp 30.000,- Idealnya, pompa filter yang digunakan bisa memutar air sebanyak 3 kali dalam 1 jam. Di dalam filter saya terdapat batuan kecil (kerikil halus), kapas filter (bawaan filter), dan arang (saya tidak membeli karbon akuarium). Itu urutan dari atas ke bawah. Sejauh ini filter itu sudah cukup baik membersihkan air akuarium.
Idealnya, air di akuarium bersuhu kira-kira 27-28 derajat Celsius. Jadi perlu pengatur temperatur air dan thermometer. Tapi air di Indonesia suhunya sudah kira-kira segitu, jadi saya rasa ini bisa dilewatkan.
Lalu, diperlukan juga semacam landasan bagi kura-kura untuk mengeringkan diri atau beristirahat di luar air. Kura-kura bernafas dengan paru-paru. Karena itu mereka bisa tenggelam di air. Jadi mereka perlu sewaktu-waktu mengeluarkan kepala dari air untuk mengambil nafas sebelum berenang lagi. Idealnya, di atas landasan itu diberi lampu pemanas yang memancarkan sinar UVA dan UVB. Saya rasa bagi daerah Indonesia yang tropis, sinar matahari pagi sudah cukup. Lagipula suhu ruangan pada umumnya kira-kira 25-33 derajat Celsius. Jadi, saya hanya menyediakan landasan berupa batuan datar tanpa lampu pemanas. Bila pagi hari cerah, saya mengeluarkan Heine agar terkena sinar matahari langsung selama kira-kira 30 - 60 menit. Seperti pada manusia, sinar matahari diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan cangkang yang baik pada kura-kura. Selain itu kura-kura juga senang menghangatkan badan, karena kura-kura berdarah dingin, jadi mereka perlu sumber panas dari luar tubuh mereka untuk menghangatkan badan.
Pada dasarnya, itu saja yang diperlukan untuk tempat tinggal kura-kura. Pembuat gelembung udara adalah bonus sebagai mainan kura-kura. Ini tidak diperlukan seperti pada memelihara ikan. Mainan lain adalah gua-guaan di bawah air. Untuk ini, saya menggunakan pipa PVC bagian siku, jadi pipa berbentuk huruf L. Tentunya dengan diameter yang cukup besar untuk bisa dimasuki si Heine sampai dia agak besar nanti. Bila ingin memelihara ganggang air, juga dipersilakan. Tapi nanti kura-kura mungkin memakan ganggang itu sampai habis.
Penggunaan kerikil kecil sebagai hiasan sangat tidak disarankan. Takutnya kerikil tertelan dan akhirnya mengakibatkan kematian. Penggunaan pasir diperbolehkan, tapi saya rasa akan sangat menyulitkan pembersihan.
Penempatan akuarium di dalam rumah adalah terserah Anda. Yang penting tidak kena sinar matahari langsung yang bisa membuat air menjadi terlalu panas. Juga sebaiknya akuarium menjadi gelap pada malam hari, agar kura-kura dapat tidur dengan lebih tenang. Kolam di luar rumah perlu aman dari predator pastinya, misalnya kucing atau tikus atau apa saja yang bisa mengganggap kura-kura sebagai santapan. Selain itu, tempat berteduh perlu disiapkan untuk kolam di luar rumah.
Demikian pembahasan tentang tempat tinggal kura-kura.