2011-03-11

menyeberang jalan

Suatu kali saya melihat sepasang muda-mudi bersiap menyeberang jalan. Mereka berdiri di tepi jalan dengan posisi si perempuan di depan si laki-laki kalau dilihat dari arah lalu lintas berjalan ke arah mereka. Lalu, si laki-laki menarik si perempuan sehingga mereka bertukar tempat: si laki-laki yang menghadang arus kendaraan.

Keesokan hari, saya teringat momen ini dan pikiran saya melantur. Memang gambaran ideal seorang lelaki pada saat menyeberang jalan bersama seorang perempuan, apalagi pasangannya, adalah berada di sisi yang menghadang arus kendaraan. Tetapi mengapa si lelaki kemarin menarik si perempuan, bukan si lelaki yang berpindah tempat? Apakah karena dia malas melangkah? Atau karena secara tidak sadar dia mau menunjukkan kalau pada dasarnya seorang lelakilah yang mengatur perempuan pasangannya, walaupun sekaligus bersikap ideal? Atau karena ada sebab lain di alam bawah sadarnya?

Tidak salah, tetapi jadi menarik dipikirkan... :-)

2010-11-06

bencana merapi 2010

Sekarang ini Jogja sedang dilanda bencana karena meletusnya Gunung Merapi. Di lereng Merapi, bencana berupa awan panas, lahar dingin, hujan lumpur, hujan abu, dan berbagai efek berat dari meletusnya gunung api. Di Kota Jogja, bencana berupa hujan abu yang mengganggu pernafasan dan pandangan.

Ada dua hal yang ingin saya catat di sini.

Yang pertama, anda mungkin pernah melihat tulisan pada kaos yang kira-kira bunyinya, "I'm with the bomb squad. If you see me running, try to keep up." Terjemahannya kira-kira, "Saya anggota penjinak bom. Kalau melihat saya lari, usahakan mengikuti saya." Sepintas tulisan ini lucu, karena kelihatannya tujuannya memang melucu. Tetapi melihat tayangan di salah satu stasiun televisi beberapa hari ini, tulisan itu menjadi nyata dan tidak lucu lagi. Yang berlari bukan anggota penjinak bom melainkan tim SAR dan relawan yang sedang melakukan evakuasi di lereng Merapi. Mereka berlari setelah Merapi tiba-tiba mengeluarkan awan panas ke arah mereka. Tentu saja wartawan peliput harus ikut berlari bersama mereka. Coba bayangkan anda yang berada di posisi mereka. Sangat menegangkan...

Yang kedua, saya heran ada orang yang tega mengarang tulisan yang disebarkan lewat SMS, BBM, atau fasilitas lainnya yang mengatakan bahwa Merapi akan meletus dahsyat pada jam sekian, mengeluarkan gas beracun, radius aman dari puncak Merapi ditambah, dan sebagainya. Dalam keadaan bencana, buat apa menambah kepanikan orang banyak yang dilanda bencana? Sungguh orang yang tidak punya hati. Daripada "meramal", lebih baik diam saja. Lebih baik lagi bila bisa membantu secara nyata, entah menyumbang materi atau tenaga.

Semoga bencana Merapi ini bisa segera berlalu.

2010-10-29

cara menghilangkan ketombe

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang cara menghilangkan ketombe versi saya. Sebenarnya ketombe tidak bisa dihilangkan sama sekali, menurut saya. Yang bisa adalah diminimalisir sehingga tidak sampai terlihat di pakaian warna gelap bila kita menggaruk kepala misalnya. Bagaimanapun ketombe akan tetap ada karena itu adalah keluaran dari kulit kepala, flora fauna yang hidup di kulit kepala dan rambut, dan sebagainya. Sekali lagi, itu menurut saya yang bukan dokter atau punya pengetahuan kedokteran atau biologi spesifik.

Jadi, begini langkah-langkahnya:
  1. Jangan stres. Stres bisa menyebabkan ketombe dan banyak gangguan lainnya.
  2. Pilih satu saja sampo anti-ketombe. Jangan ganti-ganti sampo. Saya memilih yang wanginya pas.
  3. Keramas setiap kali mandi. Ambil sampo secukupnya, jangan terlalu banyak. Gosok di telapak tangan lalu keramas sebentar saja, kurang dari satu menit cukup 10 detik. Bilas dengan air sampai tidak ada sisa sampo.
Catatan: rambut saya pendek sekali, jadi saya tidak bisa memastikan langkah-langkah di atas bisa bekerja untuk rambut panjang. Biasa setelah saya cukur, panjang rambut saya kira-kira 1,5 cm saja.

Selamat mencoba. Kalau ada komentar, silakan :-)

2009-09-04

naik garuda


Beberapa waktu lalu saya naik pesawat Garuda ke Jakarta. Sudah agak lama saya tidak naik Garuda, digantikan oleh Air Asia yang harga tiketnya jauh lebih rendah. Memang pepatah "ada harga ada rupa" itu benar dan untuk urusan layanan di dalam pesawat terbang ini khususnya sangat berlaku. Garuda Indonesia sebagai maskapai yang dianggap "premium" di Indonesia sekarang ini perlu membedakan diri dari maskapai lainnya, karena harga tiketnya yang memang termasuk "premium" juga.

Sebagai salah satu perbedaan saja, di pesawat Air Asia tidak ada pembedaan kelas, sedangkan di Garuda ada kelas bisnis dan kelas ekonomi.

Entah karena saya sudah lama tidak naik Garuda atau karena perbandingan terdekat adalah dengan pengalaman naik Air Asia, saya merasa pelayanan Garuda meningkat dan bisa saya nikmati. Jangan salah, saya tidak berkata bahwa pelayanan Air Asia buruk. Saya sangat mengerti bahwa apa yang dibayarkan untuk tiket Air Asia sepadan dengan pelayanan yang diberikan. Kalau untuk perjalanan yang tidak perlu dinikmati, Air Asia adalah pilihan terbaik karena efisiensinya dan harganya.

Akhir kata, saya ingin berkomentar bahwa sebagai manusia yang katanya makhluk sosial, tidak ada salahnya memberikan nilai lebih (value added) dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Kalau itu bisa membahagiakan orang lain, kenapa tidak. Asal tentu saja tidak kebablasan (kelewatan) yang akhirnya merugikan diri sendiri atau bahkan orang lain. Bersikaplah positif, seperti yang adik saya tuliskan dalam statusnya hari ini: think beautifully.

2009-02-17

perkenalkan: Ramen

Tidak berapa lama sejak tulisan terakhir saya tanggal 9 Agustus 2008, saya kehilangan kura-kura saya (Heine) ketika dia dijemur di pagi hari. Ternyata Heine sudah bisa melarikan diri dari wadah tempat dia dijemur karena kaki depannya sudah mencapai mulut wadah bila dia berdiri dengan kaki belakangnya. Sudah dicari berhari-hari, namun tetap saja tidak ketemu. Untuk langsung membeli penggantinya, saya jadi ragu-ragu karena masih merasa sedih dan kehilangan.

Saya merasa kecewa juga karena saya sudah merencanakan mengganti akuarium dengan yang lebih besar. Akuarium yang lebih besar itu memang bekas, tapi kondisinya masih cukup bagus.

Akhirnya pada tanggal 20 November 2008, saya mempunyai keinginan yang cukup kuat lagi untuk membeli kura-kura baru. Kura-kura baru saya beli di Pasar Ngasem seharga Rp 7500. Ukurannya memang kecil, hanya sekitar 2.5cm, lebih kecil dari Heine dulu. Dia diberi nama Ramen. Sebelum saya membeli Ramen, sudah beberapa hari saya siapkan akuarium barunya. Maksudnya agar air dan filter terkondisi dengan baik karena filter yang digunakan adalah baru dengan kemampuan pompa yang lebih besar.

Sayangnya, ternyata Ramen bermasalah. Ciri-ciri yang saya amati adalah mata bengkak, tidak aktif, lebih banyak tidur di bawah lampu pemanasnya, mengapung kalau berenang (kesulitan menenggelamkan diri), dan tidak mau makan. Semua itu adalah ciri-ciri infeksi pernafasan.


Awalnya saya berharap Ramen tidak menderita infeksi pernafasan karena cukup sulit disembuhkan. Pikir saya, Ramen tidak mau makan karena tidak bisa melihat. Karena itu, matanya saya oleskan minyak ikan kod yang saya beli dalam bentuk kapsul dari apotek. Minyak tersebut dioleskan dengan menggunakan cotton bud. Setelah beberapa hari, bengkaknya tidak mereda. Di bagian dalam selaput sebelah bawah terdapat sesuatu yang berwarna putih. Setelah mencari informasi di internet, saya berkesimpulan untuk mencoba mengeluarkan sesuatu yang berwarna putih itu. Pengeluarannya dilakukan dengan cotton bud. Saya memberanikan diri melakukannya karena saya pikir kura-kura ini murah dan lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali.

Ramen masih belum mau makan sama sekali setelah itu. Keadaannya semakin lemah dan lebih banyak lagi berjemur. Setelah berdiskusi sedikit di forum, akhirnya mau tidak mau saya simpulkan bahwa Ramen terkena infeksi pernafasan. Tidak ada obat yang bisa dibeli untuk menyembuhkan penyakit ini selain dari yang bisa diberikan oleh dokter hewan. Saya tidak mempunyai referensi dokter hewan yang mengerti reptil, jadi saya mencatat semua dokter hewan yang tercatat di Yellowpages Yogyakarta. Saya mencoba menelepon satu per satu urut abjad dari daftar yang saya tulis. Tidak tersambung semua sampai saya menelepon drh. Surono. Setelah pembicaraan singkat, beliau tidak berpengalaman dengan reptil, tapi berkesimpulan pengobatannya bisa dikira-kira mengikuti pengalamannya dengan ayam. Unggas ada setingkat di atas reptil, jadi cara pengobatannya mirip, begitu menurut beliau.

Singkat cerita, Ramen diberi Enrofloxacin, nama generik untuk Baytril yang sering direkomendasi di forum-forum Amerika Serikat, dengan dosis perkiraan yang dihitung berdasarkan berat badan mencontoh dari dosis untuk ayam. Obatnya berupa cairan, jadi perlu diteteskan ke dalam mulut Ramen, sehari tiga kali. Membuka mulut kura-kura kecil bukan pekerjaan mudah, perlu sedikit pemaksaan dengan tusuk gigi dan ditekan dengan jari. Kura-kura seharga Rp 7500 diobati seharga Rp 20 000. Tapi setelah melihat Ramen berangsur pulih, kepuasannya tinggi sekali.


Akhirnya Ramen mau makan. Makanan pertama yang dikonsumsinya setelah dia tinggal di rumah saya adalah cacing, yang bisa dibeli di toko-toko ikan, yang juga merupakan makanannya sebelum saya beli. Selama empat minggu lamanya Ramen tidak makan apa-apa. Saya cukup takjub kura-kura sekecil itu bisa tahan tidak makan selama itu, dalam keadaan sakit pula. Energi memang dibutuhkan untuk penyembuhan. Saya tidak suka Ramen makan cacing, karena tidak sehat dan tidak bergizi seimbang. Tapi Ramen perlu makan sesuatu agar kesehatannya bisa segera pulih.

Hanya sekitar tiga kali saja Ramen makan cacing. Setelah itu, saya akhirnya mencoba mencelupkan pelletnya ke dalam air rendaman ikan tuna kalengan supaya pellet tersebut lebih beraroma seperti makanan bagi Ramen. Usaha ini cukup berhasil. Sekarang Ramen sudah kira-kira tiga bulan saya pelihara. Dia bertambah besar dan menjadi lincah. Sungguh jauh berbeda dibanding dengan keadaannya waktu baru sampai di rumah saya.

Karena iseng, saya membeli 8 ekor ikan guppy dan udang lobster. Udang lobster langsung hilang karena memanjat pipa filter di malam hari dan berhasil melarikan diri entah ke mana. Ramen memakan tiga ekor guppy, yang membuat saya cukup terkesan karena guppy bisa berenang dengan cepat. Sampai sekarang tersisa lima ekor guppy ditambah empat ekor ikan mas. Hampir semua ikan itu ekornya pernah digigit Ramen.


Kenapa saya memelihara ikan di akuarium Ramen? Saya juga pernah memelihara Anacharis (tanaman air) di akuarium tersebut. Pikir saya, ekosistem akan menjadi lebih sehat bila kotoran hewan bisa menjadi pupuk bagi tanaman dan tanaman memberi oksigen lebih untuk hewan. Ternyata Anacharis tumbuh cukup cepat dan Ramen atau ikan suka menggugurkan daun-daunnya. Hasilnya filter cepat kotor dan juga air cepat kotor. Pada akhirnya saya membuang semua Anacharis dan air bisa menjadi lebih bersih dan enak dipandang.